STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 074 (Beating the innocent 2)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

74. Mengalahkan yang tidak bersalah 2


Guru yang baru itu sangat berbeda. Bahkan Jim, yang biasanya banyak bicara dan ribut di kelas, tidak bisa berkata apa-apa mengenai cara mengajar guru itu. Guru itu berdoa dan kemudian memberikan kejutan kedua.

Guru: "Kalau kita mau berhasil, kita perlu membuat aturan sekolah yang baru. Pak Guru ingin kalian yang mengusulkan aturan untuk kelas kita."

Ini sangat mengejutkan bagi Jim. Hal yang seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Murid perempuan: "Dilarang mencontek."

Guru: "Bagus. Tetapi aturan baru berguna apabila ada hukuman untuk mereka yang tidak mentaatinya."

Jim: "Tiga kali pukulan rotan bagi mereka yang mencontek."

Wah! Rupanya di sana, anak-anak yang melanggar biasa dihukum dengan pukulan rotan.

Pak Guru itu menuliskan seua aturan dan hukuman itu di papan tulis. Selama beberapa minggu, semuanya berjalan baik. Tetapi suatu pagi, pak Guru datang ke kelas dengan wajah yang sangat sedih.

Guru: "Tutup buku kalian. Pak Guru mau menyampaikan kabar menyedihkan. Ada murid yang melanggar aturan di kelas kita dan mengambil roti milik Jim. Maukah yang melakukan hal itu mengakuinya?"

Semua murid menahan nafas mereka. Tom kecil, yang duduk di barisan bangku terdepan, mengangkat tangan dan bekata dengan gemetar:

Tom: "Saya ... saya yang melakukannya. Tadi saya sangat kelaparan sehingga terpaksa mengambilnya. Saya minta maaf."

Orang tua Tom sangat miskin dan seringkali tidak memiliki makanan. Tidak ada orang yang senang menerima hukuman. Tetapi pak Guru harus tegas melaksanakan peraturan.

Guru: "Kalian yang mengusulkan aturannya: yang bersalah harus dihukum, karena kalau tidak demikian maka tidak akan ada yang mentaati aturannya. Tom, maju ke depan kelas. Sepuluh kali pukulan dengan rotan untuk orang yang mengambil milik temannya tanpa ijin."

Pak Guru mengambil tongkat rotan.

Jim: "Tunggu, itu roti saya. Saya memaafkan Tom.”

Guru: "Jim, kamu baik sekali, tetapi hukuman tetap harus dijalankan."

Jim: "Kalau begitu, pukul saya saja dengan rotan itu. Jangan menyakiti Tom."

Guru: "Baiklah. Itu bisa dilakukan. Aturan mengatakan harus ada sepuluh kali pukulan rotan, tetapi tidak dikatakan siapa yang harus dipukul."

Kemudian kelas itu melihat kejadian dimana orang yang tidak bersalah menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh seorang pencuri di antara mereka.

Peristiwa itu menjadi awal persahabatan antara Jim dengan Tom.

Semua murid mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika Pak Guru menjelaskan tentang Yesus, yang menanggung hukuman untuk semua manusia di dunia ini.

Guru: "Jumat Agung mengingatkan kita bahwa Yesus tidak berdosa tetapi Dia menanggung hukuman menggantikan kita. Kita semua melanggar aturan dari Allah. Karena itu, Yesus dengan rela membiarkan diri-Nya dihukum. Ia menanggung hukuman maut ketika Ia mati di kayu salib. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan dimerdekakan dan mendapatkan kehidupan kekal. Paskah menjadi jaminan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan hidup sampai selamanya."


Tokoh: Narator, guru, murid perempuan, Jim, Tom

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on March 05, 2018, at 11:49 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)