STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 124 (The best counselor 1)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali? -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

124. Penasihat terbaik 1


Persiapan untuk kunjungan kenegaraan dilakukan dengan sangat cepat. (suara musik)
Bendera-bendera dinaikkan dan makanan lezat disajikan. Penyambutan terhadap kedatangan Raja Yosafat dari Kerajaan Israel selatan memang tidak ada bandingannya. Apakah sang raja sendiri bisa merasakan adanya udang di balik batu dari undangan itu? Raja Ahab langsung menjelaskan maksudnya.

Ahab: “Raja Yosafat, aku tidak lagi berkuasa atas Ramot. Itu membuat aku sangat marah. Bisakah engkau menolongku merebut kembali kota itu?”

Yosafat: “Tentu saja. Engkau bisa mengandalkan pasukanku. Tetapi bukankah kita harus bertanya kepada Allah terlebih dahulu? Aku hanya mau melakukan apa yang dikehendaki Allah saja.”

Sangat baik untuk selalu membuat keputusan bersama dengan Allah. Jadikan Raja Yosafat sebagai contoh. Aku yakin bahwa itulah rahasianya mengapa ia berhasil di dalam kehidupannya. Setiap orang mengasihi Raja Yosafat. Ia memiliki jutaan prajurit. Tidak ada musuhnya yang berani menyerang kerajaannya. Ia menerima banyak hadiah dari banyak tempat.

Allah adalah penasehat raja Yosafat. Yosafat selalu meminta nasehat Allah dalam mengambil keputusan.

Raja Ahab sangat, sangat berbeda. Ia sama sekali tidak suka saran dari Raja Yosafat itu.

Ini bisa juga terjadi di dalam kelompokmu kalau engkau menyarankan kepada mereka untuk mendengar suara Allah. Yang terbaik untuk dilakukan adalah dengan tidak “ikut-ikutan”, seperti yang terjadi kepada Raja Ahab.

Ahab: “Haruskah kita melakukannya? Baiklah kalau begitu, pelayan, panggil para nabi ke sini!” (suara langkah kaki)

Ahab: “Bolehkah kita menyerang kita Ramot atau tidak?”

Nabi: “Seranglah! Tuanku raja pasti akan menang.”

Raja Ahab sudah puas. Tetapi Raja Yosafat tidak. Ia mengenal suara Allah, dan ia tahu bahwa itu bukan suara Allah. 400 nabi-nabi itu semuanya adalah nabi palsu pembohong—yang mau mengatakan apa saja yang menyenangkan raja Ahab karena mereka berharap untuk mendapatkan banyak upah.

Yosafat: “Masih adakah nabi yang lain yang bisa kita tanya?”

Ahab: “Masih ada satu, tetapi aku benci kepadanya. Ia selalu menubuatkan apa yang buruk.”

Yosafat: “Bawa dia ke sini.”

Mikha datang. Ia adalah seorang hamba Allah yang sering bercanda.

Ahab: “Mikha, bolehkah kita menyerang Ramot?”

Mikha: “Tentu saja. Tuanku raja akan mengalahkan semua musuh.” (dengan nada mengejek)

Ahab (jengkel): “Engkau harus mengatakan kebenaran. Apa yang difirmankan Allah kepadamu?”

Apakah memang raja Ahab ingin mendengar Firman Allah? Mungkin ia ingin mendengarnya, tetapi ia tidak sungguh-sungguh ingin mentaatinya.

Mikha menjadi serius.

Mikha: “Allah menampakkan kepadaku bahwa tidak lama lagi pasukanmu akan menjadi bagaikan kawanan domba yang tidak memiliki gembala. Raja Ahab, prajurit-prajuritmu akan pulang ke rumah sendirian tanpa raja mereka.”

Ahab (marah): “Kalian dengar itu? Ia menubuatkan kematianku. Lemparkan orang ini ke dalam penjara saat ini juga!”

Dalam kisah selanjutnya kamu akan mendengar apa yang terjadi berikutnya. Apakah kamu masih mau mendengarkan?


Tokoh: Narator, Yosafat, Ahab, Mikha, nabi

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 01:32 PM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)