STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 003 (Pig slop or banquet dining)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

3. Makanan babi atau makanan pesta


Sang ayah berdiri dengan penuh kesedihan di dekat jendela. Beberapa hari sebelumnya, anaknya yang bungsu pergi meninggalkannya. Ia pergi begitu saja. Ia membawa semua harta bagiannya dan meninggalkan rumah. Ia bahkan sama sekali tidak menoleh lagi!

Sang ayah sangat mengasihi anak itu. Kemana dia pergi? Apa yang dilakukannya di sana?

Kelihatannya, dia baik-baik saja. Ia memiliki banyak sekali uang dan banyak sekali sahabat. Ia pergi dari satu pesta ke pesta yang lainnya. Berpesta, tertawa, minum-minuman keras, bahkan walaupun ia tahu bahwa yang dilakukannya itu salah. Ia hanya mau ikut-ikutan saja bersama teman-temannya. Tidak lama kemudian uangnya habis. Dan teman-temannya meninggalkan dia.

Tidak memiliki pekerjaan adalah masalah yang sangat besar. Akhirnya ia mendapatkan pekerjaan di sebuah peternakan babi. Memberi makan babi—pekerjaan terjorok yang ada, tetapi hanya itu yang tersedia baginya! Perutnya merasakan lapar dan ia ingin memakan makanan babi itu, tetapi tidak ada yang mau memberikannya. Dengan perut yang kelaparan dan pakaian yang compang-camping ia duduk di dekat babi-babi yang jorok itu dan melamun.

Ayahnya sangat mengasihinya—pernahkah ia menyadari hal itu?

Tiba-tiba ia berdiri dan mengambil sebuah keputusan. Ia berkata di dalam hatinya:

Anak bungsu: “Aku mau pulang dan meminta maaf kepada ayah karena aku sudah berdosa kepadanya karena sudah pergi meninggalkannya untuk bersenang-senang.”

Memang, ia sangat ingin mengakui kesalahannya kepada ayahnya.

Bayangkan yang kemudian terjadi: Bahkan ketika anak bungsu itu masih sangat jauh, sang ayah sudah melihat dia datang. Karena ia sangat mengasihi anaknya itu, ia lalu lari untuk menyambut anak bungsunya!

Sebelum anak bungsu itu mengatakan apa-apa, sang ayah langsung memeluknya dan menciumnya. Dengan penuh kebahagiaan, ia memanggil hamba-hambanya dan berkata:

Ayah: “Cepat! Bawa pakaian yang bersih, cincin dan sepatu yang bagus. Persiapkan pesta! Kita akan berpesta, karena anakku sudah pulang! Ia sudah seperti mati, tetapi sekarang ia hidup! Ia hilang, tetapi sekarang sudah ditemukan dan sudah kembali kepadaku!”

Seperti sang ayah mengasihi anak bungsunya itu, demikian juga Allah mengasihi saya dan kamu. Ia ingin agar kita datang kepada-Nya dan hidup bersama dengan Dia. Itulah sebabnya Yesus menceritakan kisah ini.

Apakah kamu mau mengenal lebih banyak tentang kasih Allah dan bagaimana datang kepada-Nya? Kalau ya, hubungi saya!


Tokoh: Narator, Anak Bungsu, Ayah

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 07:52 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)