STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 018 (Breakfast per airmail 3)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali? -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

18. Sarapan melalui pos udara 3


Elia melangkah cepat-cepat keluar dari istana raja. Satu hal yang pasti: ia tidak mau berlama-lama di sana, karena raja yang tidak takut kepada Allah itu pasti akan berusaha memanfaatkan kekuasaannya untuk membunuh Elia. Tetapi ia tetap tidak takut karena ia tahu bahwa Allah itu setia dan tidak akan meninggalkannya.

Allah berbicara dengan jelas kepada sang Nabi itu.

Allah: “Elia, pergilah dari sini. Pergi ke arah Timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit. Di sana kamu bisa minum air dari sungai dan Aku akan menyediakan makanan bagimu.”

Tahukah kamu bagaimana cara Allah menyediakan makanan untuk Elia?

Ia mengutus burung gagak yang membawa daging dan roti untuk Elia. Hal yang sangat luar biasa itu sungguh-sungguh terjadi: Allah mengirimkan makanan melalui “kiriman udara” untuk sarapan dan makan malam Elia.

Allah itu setia. Semua yang dibutuhkan oleh hamba-Nya, diberikan oleh Allah. Sebuah tempat sembunyi, makanan dan minuman.

Banyak orang yang hidupnya sangat sulit pada masa itu. Tidak ada hujan, tidak ada tanaman, dan tidak ada makanan. Sungai Kerit juga akhirnya menjadi kering. Ketika hal itu terjadi, Allah menunjukkan kepada Elia jalan ke Sarfat, yang ada di seberang perbatasan.

Di dekat pintu gerbang kota Sarfat, ia meminta kepada seorang perempuan di sana.

Elia: “Berikanlah secangkir air dan sepotong roti kepadaku.”

Dengan tatapn sedih, perempuan itu memandang Elia dan berkata dengan suara penuh kelelahan,

Perempuan: “Aku tidak memiliki persediaan lagi. Haya segenggam tepung ini yang ada di tempat penyimpanan, dan di buli-buli hanya ada beberapa tetes minyak saja. Hanya itu yang aku punya. Sekarang aku sedang menyiapkan makanan untuk aku dan anak laki-lakiku. Tetapi hanya cukup untuk sekali makan saja, dan setelah itu ... kami akan menunggu mati saja.”

Elia: “Jangan takut. Allah mengutus aku kepadamu. Ia mengatakan bahwa tepung yang kau pakai tidak akan pernah habis dan buli-buli minyakmu tidak akan pernah kosong pada masa kekeringan ini.”

Allah itu setia! Setiap janji-Nya pasti akan terjadi.

Tepung tidak pernah habis, buli-buli tidak pernah menjadi kosong meskipun perempuan itu mengambilnya setiap hari untuk dijadikan makanan bagi mereka. Nabi Elia, perempuan itu dan anak laki-lakinya selalu memiliki makanan yang cukup. Luar biasa bukan?

Allah itu setia! Kamu selalu bisa bersandar kepada-Nya!


Tokoh: Narator, Allah, Elia, perempuan.

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 08:18 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)