STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 140 (Dream job 1)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

140. Pekerjaan impian 1


Hati-hati, tehnya masih panas. (suara sendok mengaduk teh di dalam cangkir)

Hudson hampir membuat lidahnya sendiri melepuh. Saat itu adalah saatnya minum teh di Inggris di dalam rumah keluarga Hudson. Dan suasananya sangat menyenangkan saat itu, sekitar 150 tahun yang lalu.

Ayah mereka selalu bercerita tentang sebuah negeri yang jauh bernama Cina. Tiba-tiba ia berubah menjadi sangat serius.

Ayah: “Aku tidak mengerti. Mengapa tidak ada lebih banyak lagi missionaris yang pergi ke Cina? Jutaan orang di Cina belum pernah mendengar tentang Yesus.”

Hudson: “Ayah, kalau aku besar nanti, aku mau menjadi seorang missionaris dan pergi ke Cina.”

Orang tua mereka tersenyum mendengar perkataan anak berusia lima tahun itu. Hudson kecil sering sakit-sakitan. Mustahil bahwa dia bisa menjadi missionaris nantinya. Karena Hudson tidak bisa pergi ke sekolah, ibunya yang mengajarinya di rumah.

Hudson adalah seorang kutu buku.

Hudson: “Kalau saja aku bisa membaca di tempat tidurku di waktu malam. Aku tidak bisa membaca karena Mama selalu membawa lampunya kalau malam. Aku harus mengumpulkan sisa-sisa lilin yang bisa aku pakai.”

Sore hari itu, diam-diam Hudson memenuhi saku celananya dengan sisa lilin sebelum ia mengucapkan selamat malam dan kemudian pergi ke kamarnya. Tetapi celaka sekali! Seorang tamu keluarganya tiba-tiba memegangnya dan memangkunya. Dan tempat duduknya tepat di tepi perapian! Semakin lama Hudson merasa semakin panas dan ia merasa bahwa sakunya juga bertambah panas. Rasanya lama sekali tamu itu tidak pulang-pulang.

Ibu: “Hudson, sekarang waktunya masuk ke kamarmu dan tidur.”

Hudson: “Selamat malam!”

Tidak lama kemudian, ibunya mendapati Hudson berada di dalam kamarnya dengan saku celana yang lengket karena lilin di dalamnya sudah meleleh dan mengeras. Hudson sangat menyesal sampai ia merasa harus bersembunyi di balik ibunya. Ia tidak pernah melakukan hal itu lagi.

Kuku buku itu memiliki hobby yang lain lagi: mengganggu adiknya, Amelie.

Tetapi sebenarnya keduanya hampir tidak bisa dipisahkan, mereka sering terlihat memperhatikan serangga dan burung bersama-sama.

Ketika Hudson berusia tigabelas tahun, ia mulai belajar pengobatan. Ia membuat rencana-rencana besar untuk masa depannya.

Tetapi di suatu hari libur terjadi perubahan yang sangat besar dalam hidupnya. Ia membaca sebuah buku Kristen dan tiba-tiba ia memahami bahwa Yesus mati dan bangkit kembali karena Ia sangat mengasihi Hudson.

Hudson: “Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengasihi aku. Aku mau menjadi milikMu dan melakukan apapun yang Engkau kehendaki bagiku. Amin.”

Setelah ia berdoa demikian, seolah-olah Yesus mengatakan kepadanya: Kalau demikian, pergilan ke Cina bagiKu.

Menjadi seorang missionaris adalah cita-cita terbesarnya ketika ia masih berusia lima tahun.

Ketika ia berusia 17 tahun, ia mulai mempersiapkan diri untuk masa depannya.

Mungkin latihan yang dijalaninya akan memotivasi kalian juga.

Dalam kisah selanjutnya, aku akan menceritakan lebih banyak lagi tentang dia. Jangan sampai melewatkannya!


Tokoh: Narator, ayah, Hudson, ibu

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 02:07 PM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)