STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 128 (No more thirst)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

128. Tidak akan haus lagi


Banyak orang dari kota itu menghindarinya.

Perempuan Samaria: “Mereka semua menghina aku. Seolah-olah hidup mereka sendiri sudah sempurna! Mudah-mudahan saja aku tidak bertemu dengan salah satu dari mereka dalam perjalananku ke sumur untuk mengambil air.” (suara orang melangkah di jalanan berbatu)

Pada jam 12 siang perempuan itu mengambil kendi air dan kemudian keluar dari kota. Pada saat itu, matahari sedang bersinar dengan sangat panas, sehingga ia tidak bertemu siapapun dalam perjalanan ke sumur itu. Biasanya, penduduk kota Sikhar pergi ke sumur untuk mengambil air di pagi hari atau di sore hari.

Perempuan Samaria: ”Aduh! Siapa yang sedang duduk di tepi sumur itu?”

Yesus: “Berikan air untuk Aku minum.”

Perempuan Samaria: “Mengapa kamu berbicara kepadaKu? Engkau orang Yahudi dan aku seorang Perempuan Samaria.”

Tidakkah Orang Asing itu tahu bahwa orang Yahudi tidak mau mendekat kepada orang-orang Samaria karena mereka menikah dengan orang-orang asing dan menyembah berhala? Yesus sebenarnya tahu akan hal itu. Tetapi Ia tidak pernah menjauhi orang-orang yang dijauhi oleh sesamanya. Yesus tidak pernah melakukan hal itu. Yesus sangat berbeda.

Yesus: “Kalau engkau mengenal Aku, engkau yang akan meminta agar Aku memberikan air hidup kepadamu.”

Perempuan Samaria: “Bagaimana caraMu mengambil airnya? Sumur ini sangat dalam.”

Yesus: “Orang yang minum air sumur ini akan haus lagi. Tetapi air yang Aku berikan akan membuatnya tidak pernah lagi merasa haus sampai selamanya.”

Keinginan hati kita adalah bagaikan rasa haus. Jika satu keinginan terpenuhi, maka akan muncul keinginan-keinginan lainnya. Dan demikian terus menerus. Hati kita tidak pernah merasa puas. Tidak ada pengalamn hebat apapun, prestasi olah raga apapun, sahabat sebaik apapun atau apapun juga yang bisa memuaskan rasa haus di hati kita itu. Rasa haus di dalam hati itu hanya bisa dipuaskan oleh Dia yang duduk di atas sumur itu. Perempuan Samaria itu bisa merasakan hal itu.

Perempuan Samaria: “Berikan air itu kepadaku, agar aku tidak harus datang ke sumur ini lagi.”

Yesus: “Panggillah suamimu.”

Perempuan Samaria: “Aku tidak memiliki suami.”

Yesus: “Aku tahu. Engkau pernah memiliki suami sampai lima kali. Dan laki-laki yang tinggal bersamamu sekarang itu bukanlah suamimu.”

Yesus tahu segala sesuatu tentang dirinya. Meski demikian Ia tetap tidak menjauh dari perempuan itu.

Perempuan Samaria: “Allah mengutus Engkau. Aku tahu bahwa Juruselamat akan datang.”

Yesus: “Akulah Dia.”

Yesus mengampuni dosa-dosa perempuan itu dan memberikan kepadanya kehidupan baru yang dipuaskan. Dengan penuh sukacita, perempuan itu meninggalkan kendi airnya dan berlari kembali ke kota.

Ia mengundang semua orang untuk bertemu dengan Yesus.

Dan aku mengundang kamu. Datanglah kepada Yesus. Nanti kamu akan bisa mengatakan seperti yang dikatakan oleh penduduk kota Sikhar itu:

Anak laki-laki: “Sekarang aku percaya kepada Yesus. Tetapi bukan karena apa yang engkau katakan; melainkan karena aku sendiri sudah mengenal Yesus. Ia sunggung-sungguh Juruselamat dunia.”


Tokoh: Narator, Perempuan Samaria, Yesus, anak laki-laki

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 01:39 PM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)