STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 149 (It‘s difficult for Inam 1)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali? -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

149. Terlalu sulit untuk Inam 1


Keranjang cucian itu sangat berat. Inam membawanya ke tepi sungai. Di sana ia mengambil pakain kotor, merendamnya di dalam air sungai dan mencucinya di atas sebuah batu yang besar.

Ini pekerjaan yang sangat berat. Karena di kampung Inam yang terletak agak di tengah hutan itu, tidak ada mesin cuci.

Air mata membasahi pipi Inam yang kecoklatan. Ia baru saja dipukuli lagi. Inam memandang ke persawahan dan mengingat saat padi yang ditanam di sana masih belum tumbuh tinggi.

(suara musik latar belakang selama Inam mengingat kenangannya)

Inam: “Saat itu ada beberapa orang asing yang datang ke Indonesia dan membantu membangun sebuah gereja kecil di tepi hutan. Semua orang boleh datang ke sana. Aku mengintip dari kejauhan dari balik pepohonan dan mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu yang sangat indah. Lalu aku memberanikan diri masuk dan mendengar cerita yang indah tentang Yesus dan bagaimana Ia mati di salib bagi kita.

Aku memutuskan untuk mengikuti Dia dan memberikan hidupku kepadaNya. Ketika aku memberitahukan kepada orangtuaku bahwa aku sudah berdoa kepada Yesus, mereka menjadi sangat marah dan memukuli aku.” (music fade out)

Inam menangis, bukan karena pukulan itu, tetapi ia menangisi orang tuanya.

Inam: “Tuhan Yesus, aku berdoa agar orangtuaku juga akan menjadi percaya kepadaMu dan hidup bagiMu sehingga mereka bisa bersamaMu juga di surga nanti. Jangan biarkan mereka terhilang.”

Inam mengangkat keranjang cuciannya dan membawanya pulang.

Ibu (marah): “Mengapa kamu lambat sekali? Ayo cepat selesaikan menjemurnya! Lalu masak nasi.”

Setelah mereka makan, Inam tidak boleh keluar dari kamarnya.

Tetapi ketika keadaan menjadi sepi, Inam melompat dari jendela dan lari menerabas rerumputan tinggi di hutan dan menuju ke gereja kecil di tepi hutan itu.

(music di kejauhan)

Inam tidak mau ketinggalan kebaktian. Lagu-lagu dan ayat-ayat Alkitab yang dipelajarinya di sana selalu memberikan keberanian baru kepadanya. Tetapi setelah semua selesai dan ia pulang ke rumahnya, orangtuanya sudah menunggu dengan tangan memegang tongkat dan memukulnya.

Inam mengalami masa-masa sulit sejak ia memutuskan untuk hidup bagi Yesus.

Dia sering dipukul, tetapi ia masih terus percaya kepada Yesus.

Ketika Inam sakit, ibunya memanggil dukun. Pak dukun itu mencampur berbagai ramuan dan membaca mantra-mantra.

Inam berpikir keras tentang bagaimana caranya agar ia tidak harus meminum ramuan itu. Pak dukun memberikan gelas ramuan itu kepadanya dan pada saat itu juga ibunya berkata.

Ibu: “Aku harus ke dapur, kelihatannya nasinya sudah hampir gosong!”

Pak dukun mengikutu Ibu Inam, dan Inam dengan cepat membuang air ramuan itu keluar melalui jendelanya.

Coba seandainya mereka tahu!

Kamu akan mendengar kelanjutan ceritanya dalam kisah berikutnya.


Tokoh: Narator, Inam, ibu

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on May 01, 2018, at 03:20 PM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)