STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 150 (Very brave 2)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali? -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

150. Sangat berani 2


Apa yang dilakukannya sangat berani. Inam tidak mau meminum ramuan dari dukun itu, dan itulah sebabnya ia membuang ramuan itu dari jendelanya.

Inam: “Aku percaya kepadaMu, Tuhan Yesus, sembuhkanlah aku.”

Dan anak Indonesia itu mengalami kesembuhan.

Ketika Inam sudah sehat, ia langsung berangkat untuk mengikuti kebaktian di gereja kecil yang ada di tepi hutan.

(suara musik)

Dengan sukacita ia menyanyikan lagu-lagu tentang Yesus bersama-sama dengan orang-orang yang ada di situ.

Lalu Inam bercerita kepada mereka tentang bagaimana Yesus mendengar doanya dan membuatnya sehat lagi.

Perempuan: “Lalu Ibumu berpikir, siapa yang menyembuhkanmu?”

Inam: “Ibuku berpikir bahwa Pak dukun itulah yang menyembuhkan aku melalui ramuan yang aku minum.”

Perempuan: “Apakah kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”

Inam berpikir tentang hal itu saat ia berjalan pulang ke rumahnya. Ia sering dipukuli hanya karena ia percaya kepada Yesus.

Keesokan harinya Inam masuk ke dapur dan memperhatikan Ibunya membuat bumbu masakan.

Inam: “Ibu, mungkin Ibu berpikir bahwa ramuan dari Pak dukun yang membuat aku sembuh. Tetapi bukan itu. Aku membuang ramuan itu keluar dari jendela. Yesus yang sudah menyembuhkan aku.”

Ibu: “Benarkah demikian? Kalau begitu berarti kamu hanya berpura-pura meminumnya.”

Kedengarannya Ibu tidak marah. Bahkan sebaliknya. Orangtuanya sudah lama merasa heran akan keberanian Inam, yang tetap percaya kepada Yesus meskipun ia sudah begitu sering dipukuli.

Ibunya memandang ke arah matahari.

Ibu: “Inam, sudah saatnya kamu berangkat ke gerejamu.”

Inam langsung berlari memeluk ibunya.

Untuk pertama kalinya ia pergi kebaktian dengan mendapat ijin dari orangtuanya. Dan setelah beberapa lama, orangtuanya bahkan ikut menemaninya ke gereja. Inam sangat senang sekali ketika ia duduk di antara ayah dan ibunya, sementara mereka bersama-sama mendengar cerita tentang Yesus.

Orangtuanya banyak berpikir tentang apa yang mereka dengar di gereja kecil itu. Mereka membandingkan apa yang mereka percayai dengan iman kepada Yesus yang sudah memberikan kekuatan kepada Inam untuk tetap setia, bahkan meski ia sudah dipukuli.

Suatu hari, orangtua Inam memutuskan bahwa mereka juga mau mengikut Yesus.

Kehidupan Inam bersama dengan Yesus sudah meyakinkan orangtuanya bahwa Yesus hidup. Meskipun dipukuli, Inam tetap setia kepada Yesus dan bahkan semakin mengasihi Dia.


Tokoh: Narator, perempuan, Inam, ibu

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 02:26 PM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)