STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 046 (How to become a child of God 5)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali? -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

46. Bagaimana menjadi anak Allah 5


Bencana yang melanda Haiti itu sangat mengerikan. Setelah badai berlalu, bebatuan dan lumpur longsor dari perbukitan menuju ke lembah dan menyapu seluruh desa kediaman TiFam. Tetapi Allah menyelamatkan TiFam. Di rumah sakit missi itu, TiFam pulih dengan sangat cepat. Para perawat sangat menyukai TiFam dan sangat senang melihat perkembangannya yang sangat cepat.

Perawat: “Kamu sudah lebih baik sekarang, TiFam. Maukah engkau belajar untuk menulis dan membaca?”

TiFam: “Ya, aku mau. Tetapi aku takut kepada buku itu.”

Perawat: “Kamu tidak perlu takut kepada Alkitab. Di dalamnya kita bisa membaca bahwa Yesus mengasihi anak-anak.”

Setelah sembuh, TiFam pergi setiap hari ke sekolah misi itu. Di dalam kelas agama, dia selalu menutup telinganya, tetapi kadangkala ia juga mendengar sedikit-sedikit. Ia tidak memahami apa artinya ketika gurunya berbicara mengenai “anak Allah”. Kalau mendengarnya, ia cepat-cepat memegang kuat-kuat jimat yang ada di lehernya. Suatu hari, salah seorang temannya mentertawakan apa yang dilakukannya itu. TiFam merasa ketakutan dan menangis, lalu berlari keluar dari ruangan kelas.

Perawat: “TiFam, mengapa engkau menangis?"

TiFam: “Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya aku bisa menjadi anak Allah?”

Perawat: “Di dalam Alkitab dikatakan bahwa semua orang yang percaya kepada Yesus dan meminta Dia menjadi Tuhan atas kehidupannya, saat itu juga ia menjadi anak Allah.”

TiFam: “Tetapi ayahku nanti menghukum aku. Aku takut.”

Perawat: “Kami akan berdoa untuk dia juga, agar suatu hari nanti dia juga percaya kepada Anak Allah.”

TiFam sangat terhibur dan berdoa.

TiFam: “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu. Ampunilah dosa-dosaku dan datanglah ke dalam kehidupanku.”

Perawat: “Sekarang, kamu sudah menjadi anak Allah. Dan Yesus selalu menyertaimu.”

TiFam (dengan rasa senang): “Aku seorang anak Allah!”

Setelah beberapa lama, ayahnya datang menjemputnya. TiFam sudah diberi Alkitab. Ayahnya memelototinya dengan penuh rasa curiga dan tidak berkata sepatah katapun sampai mereka tiba di rumah.

Orestil: “Apa kamu juga sudah percaya kepada Yesus ini?”

TiFam: “Ya, ayah, aku sudah menjadi seorang anak Allah. Terimalah Yesus di dalam kehidupan ayah juga. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa kalau ayah mau melakukannya, ayah juga bisa menjadi anak Allah juga.”

TiFam tidak melanjutkan pembicaraannya. Ayahnya kemudian merampas Alkitab dari tangannya, lalu merobek-robeknya menjadi robekan kecil-kecil, kemudian membuangnya.

Lalu bagaimana?

Dalam kisah selanjutnya kamu akan tahu apa yang kemudian terjadi.


Tokoh: Narrator, Perawat (dari rumah sakit missi), TiFam, Orestil

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on March 05, 2018, at 11:44 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)