STORIES for CHILDREN by Sister Farida

(www.wol-children.net)

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- Perform a PLAY -- 105 (The sign on the door 5)

This page in: -- Arabic? -- Aymara -- Azeri -- Bengali -- Bulgarian -- Cebuano -- Chinese -- English -- Farsi? -- French -- German -- Guarani -- Hebrew? -- Hindi -- INDONESIAN -- Italian -- Korean -- Kyrgyz -- Malayalam? -- Portuguese -- Quechua? -- Romanian? -- Russian -- Serbian? -- Spanish-AM -- Spanish-ES -- Tamil -- Turkish -- Urdu? -- Uzbek

Previous Piece -- Next Piece

DRAMA -- tampilkan itu di depan teman-temanmu!
Sandiwara untuk ditampilkan oleh anak-anak

105. Tanda di pintu 5


Di pagi hari, sebuah kereta kuda berhenti di depan sebuah rumah.

Anak laki-laki: "Ibu, mereka sudah datang."

Ibu: "Bisakah kamu membawa kandang burung itu?"

Anak laki-laki: "Howie, kamu dengar—kita akan pindah (suara burung bercicit chirping)! Kamu senang bukan? Aku senang sekali.

Tetapi orang-orang dewasa menjadi sangat sibuk sekali.

Bisakah kamu membayangkan keadaan pada saat itu, ketika bukan hanya satu keluarga yang harus pindah, tetapi sebuah bangsa yang besar?

Mereka sudah lama sekali ingin pergi dari Mesir dan lepas dari perbudakan di sana. Tetapi Firaun tidak mau melepaskan mereka. Ia memaksa mereka untuk tetap tinggal di sana. Mereka harus bekerja keras. Siang dan malam mereka berseru kepada Allah di dalam kebutuhan mereka. Allah melakukan banyak mujizat, tetapi Firaun tetap mengeraskan hatinya. Allah mengulangi perkataan-Nya kepada Musa.

Allah: "Musa, pergilah menghadap Firaun. Malam ini Aku akan melewati tanah Mesir, dan dari semua keluarga, anak sulung mereka akan mati."

Di sore harinya, seorang anak laki-laki Israel memperhatikan ayahnya menyembelih seekor anak domba.

Yosua: "Ayah, mengapa anak domba itu harus mati?"

Ayah: "Yosua, agar engkau bisa tetap hidup. Allah menghendaki hal itu."

Sang ayah mengambil sebagian dari darah anak domba itu dan kemudian mengoleskannya ke ambang pintu rumah mereka. Kiri, kanan dan atas.

Ayah: "Darah ini adalah tanda. Allah akan melewati rumah kita malam ini, dan ketika Ia melihat darah ini Ia akan melindungi kita."

Yosua: "Aku kasihan kepada anak domba itu, tetapi ia menyelamatkan nyawaku."

Setiap keluarga bangsa Israel mengolesi ambang pintu rumah mereka dengan darah anak domba.

Ayah: "Yosua, masuk sekarang, sudah gelap. Gantilah bajumu. Kita harus bersiap-siap."

Mereka makan sambil berdiri. Menjelang tengah malam, mereka mendengar suara tangisan yang sangat keras. Di setiap keluarga Mesir, anak sulung mereka mati.

Firaun: "Tinggalkan Mesir secepat mungkin. Pergi dengan membawa semua barang milikmu. PERGI SEKARANG!"

Lebih dari satu juta orang—laki-laki, perempuan dan anak-anak—siap untuk pergi dan keluar dari Mesir malam itu.

Yosua tetap hidup. Ayahnya menggandeng tangannya. Tanda di ambang pintu rumah mereka sudah melindungi mereka dan menyelamatkan nyawa mereka.

Allah mau melindungi. Ia menghendaki kehidupan dan bukan kematian.

Tuhan Yesus disalibkan di kayu salib, dan kemudian Dia mati. Darah-Nya menjadi tanda bahwa Allah mau menyelamatkan kita dari kematian yang kekal. Inilah sebabnya Yesus mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25).


Tokoh: Narator, anak laki-laki, Ibu, Allah, Yosua, ayah

© Copyright: CEF Germany

www.WoL-Children.net

Page last modified on February 26, 2018, at 11:48 AM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)